Di Malang Raya, Jokowi-Ma'ruf Unggul 20 Persen dari Prabowo-Sandi

Direktur Lembaga Adiwangsa, Mahatva Yoga, saat memaparkan hasil survei partisipasi politik Kota Malang serta elektabilitas para calon dalam Pemilu 2019. (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Direktur Lembaga Adiwangsa, Mahatva Yoga, saat memaparkan hasil survei partisipasi politik Kota Malang serta elektabilitas para calon dalam Pemilu 2019. (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

PONOROGOTIMES, MALANG – Tren partisipasi politik di Malang Raya mengalami peningkatan. Hal itu berdasarkan survei yang dilaksanakan Lembaga Riset Adiwangsa sepanjang  November 2018 hingga Februari 2019. Tercatat, angka partisipasi masyarakat untuk turut melakukan pesta demokrasi mencapai 80 persen.

Direktur Lembaga Adiwangsa, Mahatva Yoga, menyampaikan, ada banyak komponen yang menyebabkan pemilih di Malang Raya mulai tertarik menggunakan hak pilihnya. Salah satunya sosialisasi yang dilakukan lembaga penyelenggara pemilu yang dinilai tepat sasaran.

Selain itu, peran para calon, baik calon presiden, DPR RI, DPRD provinsi, DPD, ataupun DPRD kota/kabupaten yang memanfaatkan masa kampanye cukup berpengaruh. Baik melalui media massa ataupun baliho serta cara calon yang turun langsung menyapa masyarakat. "Dan alasan mereka memilih itu sangat beragam," katanya kepada wartawan saat melakukan pemaparan hasil survei.

Untuk calon presiden dan wakil presiden misalnya, menurut Yogs, masyarakat memiliki kecenderungan yang sama saat memilih calon. Kebanyakan memilih lantaran sudah mengenal dan mengetahui figur masing-masing calon presiden dan wakil presiden.

Dari hasil survei, selain memilih sosok yang sudah dikenal atau diketahui, masyarakat juga memilih lantaran program yang diberikan. Hal itu dikarenakan saat ini pemilih cenderung realistis dan memilih calonnya yang dapat menawarkan solusi dari setiap permasalahan yang ada.

Sementara dari hasil survei, untuk pemilihan presiden dan calon presiden, pasangan nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin, mendapat perolehan suara 55,70 persen. Paslon ini mengungguli perolehan pasangan nomor urut dua, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno-  yang mencapai 35,00 persen. Sedangkan 9,30 persen menyatakan tidak memiliki pilihan alias golput dan sebagian memiliki pilihan namun enggan menyebutkan pilihannya.

"Alasan mereka memilih paslon 01 karena mereka mengenal dan mengetahui sosok Jokowi. Begitu juga yang memilih paslon 02, karena mereka mengenal dan mengetahui Prabowo," imbuh Yoga.

Menariknya lagi, para pemilih Jokowi cenderung memiliki penilaian tersendiri terhadap sosok lawan Jokowi. Sebagian menilai jika pasangan Prabowo-Sandi merupakan sosok yang lebih tegas daripada  pasangan Jokowi-Mar'ruf Amin. Namun meski begitu, mereka tetap memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Dari hasil survei berbasis multistage random sampling itu, kebanyakan masyarakat memilih lantaran sosok dan kepribadian calonnya. Bukan pada latar belakang partai politik. Sehingga, meskipun di Malang Raya sempat terjadi kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah dari beberapa partai besar, nyatanya sama sekali tak berpengaruh pada pilihan masyarakat.

"Kasus korupsi tak berpengaruh, karena yang mereka ketahui adalah sosok Jokowi dan Prabowo. Bukan asal parpol mereka. Meski ada beberapa yang cenderung memilih karena parpol," imbuhnya.

Bukan hanya itu.  Yoga juga menjelaskan, politik uang yang ada saat ini sudah disikapi dengan realistis oleh masyarakat. Sebab, tak sedikit yang tetap menerima uang dari pihak yang berkampanye. Namun saat ditanya apakah yang bersangkutan akan memilih pihak yang memberinya uang, jawabannya adalah tidak.

"Jadi, masyarakat ada yang menerima uang, tapi mereka tegas nggak mau pilih yang kasih uang. Dan ada juga yang tegas sejak awal tak menerima politik uang, tapi menggunakan hak pilihnya," pungkasnya.

 

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]ponorogotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]ponorogotimes.com | marketing[at]ponorogotimes.com
Top